![]() |
| Photo by : Kharisma P Lanang @karizunique |
Tepat di malam pergantian tahun, saya mengemban tugas sekaligus amanah yang lumayan berat, menjadi seorang komandan lapangan (danlap) dalam sebuah proses pendidikan dan latihan dasar (diksar) organisasi penggiat alam yang saya tekuni. Sebuah tugas yang tidak gampang-gampang amat, dan tidak susah-susah amat, tapi cukup untuk membuat tenaga terkuras. Harus bolak-balik survei, banyak yang perlu dikerjakan karena kondisi lokasi yang baru, belum lagi pikiran juga ikutan terkuras gegara ngurus skripsi. Jiwa raga benar-benar sedang kerja keras
Sebelumnya saya mengelabuhi dosen pembimbing bahwa saya tidak ada kegiatan apa-apa di akhir tahun, tapi ternyata bohong juga ada plus minus nya, setelah bilang kalo gak ada kegiatan ternyata malah disuruh bimbingan, mau nggak mau, sudah di gunung 3 hari, akhirnya saya balik lagi selama 1 hari buat bimbingan, alhamdulillah penelitian di acc walaupun banyak revisi. Lalu saya ngaku kalau ada kegiatan, dosen pembimbing pun juga merestui saya buat berkegiatan. Lagi-lagi ini juga gara-gara Mas Ocol yang ngasih petuah kalo mending jujur aja, sekalinya ngebohong pasti bakal ngebohong terus. Sebenernya bukan maksud ngebohong ke dosbing kalo nggak ada kegiatan naik-naik gunung, cuman maksud hati ingin jalan dua-duanya, ternyata memang harus ada yang diprioritaskan.
Setelah bimbingan selesai, saya pun balik ke lokasi diksar dan semuanya berjalan lancar, sampai akhirnya tibalah di salah satu materi yang paling menegangkan, tak usah saya sebut terlalu gamblang, intinya para siswa diberi kesempatan untuk eksplore (hahaha, biar gak terlalu jujur banget), sebelumnya mereka diharuskan membawa kembang api bukan maksud untuk merayakan tahun baru di gunung, tetapi sebagai pertanda bahaya, atau bisa dibilang bentuk peringatan dari siswa ke badan diklat. Saat itu tepat di malam pergantian tahun, saya dan Mas Rangga mendengar suara teriakan meminta tolong, untuk memastikan itu saya bertanya ke yang lain, Kiki dan Kamal. Ternyata benar, katanya mereka bolak-balik meminta tolong. Saya langsung ketar-ketir, Kamal langsung packing bawa kebutuhan yang sekiranya diperlukan serta logistik makanan, Mas Rangga yang bertugas sebagai Komandan Medis membawa tas medisnya. Belum sampai ketemu mereka tiba-tiba suara kembang api itu terdengar, pertanda kalau memang sedang terjadi sesuatu. Sekitar satu jam perjalanan, dengan kondisi medan yang cukup terjal, akhirnya kami menemukan mereka, dengan kondisi dua orang sakit, namun yang terparah adalah Sally dia sudah mulai memperlihatkan gejala hipo, tangannya mulai mati rasa dan kaku, lalu dia pun mulai mengalami sesak nafas.
Saya, Mas Rangga, Kamal dan Kiki pun sebisa mungkin membantu mereka semua, dengan keyakinan hati saya berdoa semoga Sally nggak mati (titik). Saya teringat kata Mas Ocol, iya lagi lagi Mas Ocol, abisnya dia suhu banget kalo masalah yang beginian, kata belaiu kalo kita sedang bawa nyawa orang, dan saya nggak mau terjadi apa-apa dengan nyawa mereka, saya yakin ketiga teman saya yang sedang dilokasi pun seperti itu, kami pun sebisa mungkin membantu apa yang kami bisa, saya sendiri nyuapin sally pake oatmeal, tapi sempet dimuntahin, disuapin pake sup krim lama-lama dmuntahin juga, setelah kami berempat menangani hampir 2 jam, kondisi Sally pun membaik. Alhamdulillah... ke 8 siswa ini akhirnya sudah mulai bercanda dan sepertinya sudah bisa ditinggal.
Sekitar jam setengah 12 malam, kami memutuskan kembali ke camp di puncakan sebelah, yang aduhai jalurnya harus turun dan naik di punggungan yg jalurnya rata, cuman tanah aja, ditengah-tengah perjalanan suara kembang api pun mulai terdengar, pergantian tahun pun tiba. Saya tidak menyangka malam tahun baru 2017 saya terjadi dengan kisah haru seperti itu, padahal rencana saya di malam pergantian tahun adalah nge-camp ceria sambil masak pasta lalu bikin hot chocolate sama ketiga orang ini. Tapi Tuhan punya rundown lain, tidak ada yang perlu disesali, justru saya senang saya pernah dalam kondisi seperti itu, kondisi susah dan senang yang jadi satu.
Sekitar jam setengah 12 malam, kami memutuskan kembali ke camp di puncakan sebelah, yang aduhai jalurnya harus turun dan naik di punggungan yg jalurnya rata, cuman tanah aja, ditengah-tengah perjalanan suara kembang api pun mulai terdengar, pergantian tahun pun tiba. Saya tidak menyangka malam tahun baru 2017 saya terjadi dengan kisah haru seperti itu, padahal rencana saya di malam pergantian tahun adalah nge-camp ceria sambil masak pasta lalu bikin hot chocolate sama ketiga orang ini. Tapi Tuhan punya rundown lain, tidak ada yang perlu disesali, justru saya senang saya pernah dalam kondisi seperti itu, kondisi susah dan senang yang jadi satu.
| Kamal, Kiki, Mas Rangga terimakasih sudah menemani dan melewati detik-detik tersulit itu, terimakasih... |
Setelah itu pun, masih ada satu hari untuk stay di lokasi camp, dan yang terakhir adalah upacara penutupan diksar. Lagi-lagi saya terharu, saya nggak sangka kalau ini tahun terakhir saya, kerja keras yang sudah dijalani kami badan diklat akhirnya membuahkan hasil, ada delapan anggota muda yang semoga bisa diandalkan untuk jadi penerus kami di organisasi, Disini saya benar-benar dilepas oleh senior yang dari dulu selalu ada di belakang saya untuk membackup saya, tahun ini saya bener-bener ngerasain jadi orang yang harus mandiri tanpa senior khususnya angkatan Belati Juang, terimakasih sudah mendidik kami semuda menjadi seperti ini, Tahun ini aku cukup sukses jadi danlap walaupun aku masih banyak kekurangan dan eval sana sini. Sekali lagi terimakasih, semboyan we can do it bener-bener bisa aku lakuin.
Barangkali ini cerita kembang api 2017 ku, berbeda memang dengan orang-orang kebanyakan, semoga akan selalu ada kebaikan dan pertolongan untuk hal-hal yang akan datang,serta selamat datang anggota baru ...
| Ranca Upas, 2 Januari 2017 - penutupan diklatsar PERIMATRIK X angkatan ke XII |

0 comments