HR COFFEE: TEMPAT NGOPI VINTAGE SARAT AKAN SEJARAH

By yunikusumawe - April 13, 2016




Pura-pura bahagia pas lagi ngopi, sayang minus mas Ocol dan mas Tukul.

Cuaca Bandung siang hari yang selalu mendung, membuat saya ngide untuk  ngajak pergi ngopi mas-mas saya di malam hariOcol dan Tukul (bukan nama sebenarnya), sebelumnya saya juga mengajak mas-mas yang lain tetapi karena berbagai alasan yang mereka keluhkan, akhirnya saya pun mengiyakan saja keputusan mereka untuk tidak ikut. Sebenarnya saya juga ngajak mas Kalim tapi seperti biasa dengan alasan mager dia tidak mau beranjak dari kamarnya yang dipenuhi dengan buku-buku itu. Saat saya berniat menjemputnya dia sedang asik memegang sebuah buku PANGGIL AKU KARTINI SAJA, mas Kalim memang salah satu orang yang awesome yang pernah saya kenal,  kecintaannya tidak jauh-jauh dari baca buku, ngopi, aksi dan diskusi. Keisengan saya nulis sejatinya terinspirasi dari beliu.

Sebenarnya acara nongkrong kali ini untuk memenuhi tugas saat saya interview magang pada sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang mobile applicationSeeties, aplikasi ini memberikan rekomendasi seputar gaya hidup di kota (aplikasi bisa diunduh di playstore hehehe). Saya disuruh mencari tempat hangout untuk dijadikan bahan dengan minimal 5 foto dan dilengkapi dengan artikel minimal 500 kata, jadi perjalanan kali ini adalah membawa misi untuk tugas magang yang lebih baik!
Waktu menunjukan pukul 21.14 WIB saya, Mas Ocol, Mas Tukul, Desri, Fika dan Tablo masih tidak jelas akan pergi kemana. Tapi saya percayakan saja semuanya kepada Mas Ocol yang sudah memiliki banyak referensi tempat ngopi di Bandung, akhirnya dia mengantarkan kami ke sebuah cafe di Jl. Supratman No.59 BandungHR COFFEE.

Dari luar suasan terasa sepi, sepertinya hanya kami yang berkunjung waktu itu, ada 2 spot di dalam dan di bagian teras depan. Sang waiters menjemput kami di depan pintu, dan menyapa dengan ramah.

“Silahkan, mau di dalam atau diluar”

“Di dalam saja”

Jawab saya singkat. Saya sebenernya juga bingung, tapi saat saya lihat-lihat lebih sepertinya lebih enak di dalam. Pertama kali yang ada di fikiran saya saat memasuki cafe iniuniqe. Desain interiornya bernuansa musik, banyak terpampang alat musik seperti gitar, ukulele, drum, gamelan, ada juga piringan hitam dan masih banyak lagi. Saya jadi penasaran, akhirnya saya coba bertanya sama waiters-nya:

“Saya boleh nanya-nanya nggak aa? Ya wawancara kecil sih seputar cafe ini”

“Oh bisa, sebentar ya”

“Ke aa nya juga gak apa-apa kok”

“Oh gak bisa, ke pengurusnya saja langsung”

Akhirnya saya dipertemukan dengan bapak-bapak yang sedang duduk santai di luar. Setelah perkenalan dan berbincang singkat, ternyata beliau ini adalah bagian keuangan di cafe ini beliau bernama Pak Orin. Saya bertanya seputar cafe mulai dari sejarah, desain, dan kopi andalan di cafe ini. Beliau menjelaskan sesuai permintaan saya dengan begitu selow nya.

“Jadi ini cafe sebenarnya baru 7 bulan, kalo dibilang aktif baru sekitar 5 bulan. Namanya HR Coffee, HR itu dari nama Harry Roesli, adek tahu nggak?”

“Wah saya belum tahu pak, maaf pak itu siapa ya?” Jujur saya nggak tahu siapa dibalik nama Harry Roesli.

“Jadi Harry Roesli itu seorang seniman memang aktif dalam bermusik tapi itu dulu, anak muda jaman sekarang sepertinya memang gak tahu. Tapi coba cari saja di internet, pasti ada”

“Siap pak, nanti saya coba saya cari-cari lagi”

Lalu Pak Orin menjelaskan bahwa HR Coffee ini dibuat oleh keluarga Harry Roesli, jauh sebelum cafe ini didirikan, terlebih dahulu lahir Rumah Musik Harry Roesli (RMHM) yang mana rumah musik ini sengaja didirikan oleh  almarhum  sebagai tempat membina seniman jalanan, sungguh mulia bukan? Hingga saat ini kegiatan itu masih berlangsung, bahkan para musisi jalanan yang tergabung dalam RMHM ini disediakan studio untuk latihan. Berdasarkan penuturan Pak Orin para seniman jalanan yang dibina juga mengaransemen lagu, melakukan rekaman bahkan mereka juga sempat mendapatkan tawaran manggung atau masuk di acara talkshow di beberapa TV.
Dekorasi ruangan kental akan nuansa music dan vintage.

Jika dilihat desainnya memang bernuansa musik dan vintage. Kata pria yang memiliki background manajemen ini tidak ada hal yang berarti mengenai desain, namun sengaja dibentuk sedemikian rupa karena memang menyesuaikan dengan latar belakang Harry Roesli sendiri sebagai seorang komposer.

Tampak foto almarhum dalam gambar ini, berkacamata menggunakan topi serta di dalam meja terdapat gitar yang dulu digunakan oleh beliau.

Orange coffe dan dark chocolate adalah minuman andalan di cafe ini, disini menyediakan beberapa jenis kopi Indonesia dan banyak menu makanan lainnya. Harganya pun cukup terjangakau dimulai dari kisaran Rp 12.000,00. Sayangnya HR Coffee hanya beroperasi dari jam 2 siang hingga jam 11 malam. Karena waktu sudah menunjukkan jam setengah 11 malam akhirnya saya pun, menyudahi pembicaraan dengan Pak Orin dan kembali bergabung dengan teman-teman yang sedang menanti pesanan mereka.

Menikmati menu di HR Coffee.

Tak lupa saya pun memesan kopi andalan seperti yang kata Pak Orin tuturkan­orange coffee. Namun tidak bisa dipungkiri, saya yang seleranya kuno ini selalu menyukai yang original, bagi saya tetap saja kopi hitam yang menjadi favorite. Tak beberapa lama waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 kami pun menyudahi ngopi hari ini.

Saat pulang tidak sengaja saya membaca quote yang tertempel di dinding “I like my coffe black, like my soul”. Kemudian terdiam, sepertinya saya sepakat dengan kalimat ini. Lalu saya pun pulang...


  • Share:

You Might Also Like

0 comments