Pura-pura bahagia pas lagi ngopi, sayang minus mas Ocol dan mas Tukul.
Cuaca
Bandung siang hari yang selalu mendung, membuat saya ngide untuk ngajak pergi
ngopi mas-mas saya di malam hari—Ocol
dan Tukul (bukan nama sebenarnya), sebelumnya saya juga mengajak mas-mas yang
lain tetapi karena berbagai alasan yang mereka keluhkan, akhirnya saya pun mengiyakan
saja keputusan mereka untuk tidak ikut. Sebenarnya saya juga ngajak mas Kalim
tapi seperti biasa dengan alasan mager dia
tidak mau beranjak dari kamarnya yang dipenuhi dengan buku-buku itu. Saat saya
berniat menjemputnya dia sedang asik memegang sebuah buku PANGGIL AKU KARTINI
SAJA, mas Kalim memang salah satu orang yang awesome yang pernah saya kenal,
kecintaannya tidak jauh-jauh dari baca
buku, ngopi, aksi dan diskusi. Keisengan saya nulis sejatinya terinspirasi dari
beliu.
Sebenarnya
acara nongkrong kali ini untuk memenuhi tugas saat saya interview magang pada sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang mobile application—Seeties, aplikasi ini memberikan rekomendasi seputar
gaya hidup di kota (aplikasi bisa diunduh di playstore hehehe). Saya disuruh mencari tempat hangout untuk dijadikan bahan dengan minimal 5 foto dan dilengkapi
dengan artikel minimal 500 kata, jadi perjalanan kali ini adalah membawa misi
untuk tugas magang yang lebih baik!
Waktu
menunjukan pukul 21.14 WIB saya, Mas Ocol, Mas Tukul, Desri, Fika dan Tablo masih
tidak jelas akan pergi kemana. Tapi saya percayakan saja semuanya kepada Mas
Ocol yang sudah memiliki banyak referensi tempat ngopi di Bandung, akhirnya dia
mengantarkan kami ke sebuah cafe di
Jl. Supratman No.59 Bandung—HR COFFEE.
Dari
luar suasan terasa sepi, sepertinya hanya kami yang berkunjung waktu itu, ada 2
spot di dalam dan di bagian teras depan. Sang waiters menjemput kami di depan pintu, dan menyapa dengan ramah.
“Silahkan,
mau di dalam atau diluar”
“Di
dalam saja”
Jawab
saya singkat. Saya sebenernya juga bingung, tapi saat saya lihat-lihat lebih sepertinya
lebih enak di dalam. Pertama kali yang ada di fikiran saya saat memasuki cafe ini—uniqe. Desain interiornya bernuansa
musik, banyak terpampang alat musik seperti gitar, ukulele, drum, gamelan, ada
juga piringan hitam dan masih banyak lagi. Saya jadi penasaran, akhirnya saya
coba bertanya sama waiters-nya:
“Saya
boleh nanya-nanya nggak aa? Ya wawancara kecil sih seputar cafe ini”
“Oh
bisa, sebentar ya”
“Ke
aa nya juga gak apa-apa kok”
“Oh
gak bisa, ke pengurusnya saja
langsung”
Akhirnya
saya dipertemukan dengan bapak-bapak yang sedang duduk santai di luar. Setelah
perkenalan dan berbincang singkat, ternyata beliau ini adalah bagian keuangan
di cafe ini beliau bernama Pak Orin. Saya
bertanya seputar cafe mulai dari
sejarah, desain, dan kopi andalan di cafe
ini. Beliau menjelaskan sesuai permintaan saya dengan begitu selow nya.
“Jadi
ini cafe sebenarnya baru 7 bulan,
kalo dibilang aktif baru sekitar 5 bulan. Namanya HR Coffee, HR itu dari nama
Harry Roesli, adek tahu nggak?”
“Wah
saya belum tahu pak, maaf pak itu siapa ya?” Jujur saya nggak tahu siapa
dibalik nama Harry Roesli.
“Jadi
Harry Roesli itu seorang seniman memang aktif dalam bermusik tapi itu dulu,
anak muda jaman sekarang sepertinya memang gak
tahu. Tapi coba cari saja di internet, pasti ada”
“Siap
pak, nanti saya coba saya cari-cari lagi”
Lalu
Pak Orin menjelaskan bahwa HR Coffee ini dibuat oleh keluarga Harry Roesli, jauh
sebelum cafe ini didirikan, terlebih
dahulu lahir Rumah Musik Harry Roesli (RMHM) yang mana rumah musik ini sengaja
didirikan oleh almarhum sebagai tempat membina seniman jalanan, sungguh
mulia bukan? Hingga saat ini kegiatan itu masih berlangsung, bahkan para musisi
jalanan yang tergabung dalam RMHM ini disediakan studio untuk latihan. Berdasarkan
penuturan Pak Orin para seniman jalanan yang dibina juga mengaransemen lagu,
melakukan rekaman bahkan mereka juga sempat mendapatkan tawaran manggung atau
masuk di acara talkshow di beberapa TV.
Dekorasi ruangan kental
akan nuansa music dan vintage.
Jika
dilihat desainnya memang bernuansa musik dan vintage. Kata pria yang memiliki background manajemen ini tidak ada hal yang berarti mengenai
desain, namun sengaja dibentuk sedemikian rupa karena memang menyesuaikan
dengan latar belakang Harry Roesli sendiri sebagai seorang komposer.
Tampak foto
almarhum dalam gambar ini, berkacamata menggunakan topi serta di dalam meja
terdapat gitar yang dulu digunakan oleh beliau.
Orange coffe dan dark chocolate adalah minuman andalan di cafe ini, disini menyediakan beberapa jenis kopi Indonesia dan
banyak menu makanan lainnya. Harganya pun cukup terjangakau dimulai dari
kisaran Rp 12.000,00. Sayangnya HR Coffee hanya beroperasi dari jam 2 siang
hingga jam 11 malam. Karena waktu sudah menunjukkan jam setengah 11 malam
akhirnya saya pun, menyudahi pembicaraan dengan Pak Orin dan kembali bergabung
dengan teman-teman yang sedang menanti pesanan mereka.
Menikmati menu di
HR Coffee.
Tak
lupa saya pun memesan kopi andalan seperti yang kata Pak Orin tuturkan—orange coffee. Namun tidak bisa dipungkiri, saya
yang seleranya kuno ini selalu menyukai yang original, bagi saya tetap saja
kopi hitam yang menjadi favorite. Tak
beberapa lama waktu sudah menunjukkan pukul 23.30 kami pun menyudahi ngopi hari
ini.
Saat
pulang tidak sengaja saya membaca quote
yang tertempel di dinding “I like my
coffe black, like my soul”. Kemudian terdiam, sepertinya saya sepakat
dengan kalimat ini. Lalu saya pun
pulang...




0 comments