Homesick, Desa Suntenjaya dan Sedikit Cerita Tentang Pak Hayat

By yunikusumawe - November 09, 2015

 
Kisah ini terjadi di akhir bulan Oktober, tanggal 31 tepatnya. Pagi itu saya harus pergi ke desa Suntenjaya untuk kegiatan Aksi Peduli Desa yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Komunikasi dan Bisnis Telkom University. Itu acara meupakan kegiatan sosial yang dibikin oleh Departemen Pengabdian Masyarakat, sebelumnya saya ceritain dulu nih tentang Aksi Peduli Desa ini. Jadi, APD itu kegiatannya membangun sebuah di desa tepatnya di Desa Suntenjaya, Maribaya, Lembang - Bandung. Adapun acara yang dilakukan itu yakni memberi sosialisasi mengenai pemasaran, karena disana masyarakatnya banyak yang memiliki usaha kecil. Selanjutnya acara yang dilakukan yaitu Malam Hiburan dan paginya kita senam bareng dan ada juga bazar UKM dan juga pasar murah.

Hari itu, pagi-pagi sekali saya harus menyusul panitia yang sudah berangkat sejak Jumat malam. Sendiri saya berangkat mengendarai motor dari Dayeuhkolot menuju Lembang. Saat sudah tiba di daerah Dago tiba-tiba saya baru menyadari, perjalanan seperti ini sering saya lalui, saat saya pulang dari Malang ke Sumawe--sebuah daerah di pelosok Kab. Malang--daerah tempat tinggal saya. Kangen rumah lagi-lagi semakin memuncak akibat di daerah Dago--di kanan jalan-- ada pohon cengkeh yang tumbuh, mirip sekali dengan desa saya. Pagi itu sejuk, sepi dan sendiri jelas sama seperti suasana kalau saya sedang pulang ke Sumawe itu. 

Homesick itu ada karena beberapa pekan yang lalu Ibu saya telpon, kalo saya tidak bisa dihubungi selama tiga hari. Dikiranya saya sedang mengalami musibah, maklum saya suka ada kegiatan di alam bebas acara organiasasi lebih tepatnya. Ibu saya sudah pesan tiket, tapi akhirnya dibatalkan karena tahu kalau anak wedok nya nggak kenapa-napa. Dunanges, saat saya dengar ibu saya sedikit ngamuk lewat telpon. Saya sadar, jadi orang tua berat sekali, pikirannya banyak, bukan cuman diri sendiri yang dipikirkan tapi nasib anak-anaknya juga. Sejak itulah saya jadi pengen cepet-cepet pulang, tapi nggak tahu kapan.

Mungkin ibu saya benar-benar menangis waktu itu,  tapi Ibu saya pasti tahu  kalau saya sekarang sedang pergi dari rumah--kurang lebih sudah 8 tahun-- merantau tepatnya, bukan tanpa alasan. Tapi tujuan saya satu, buat balik lagi, buat pulang ke rumah buat membahagiakan orang yg ada di rumah itu. Kalau ibu dan bapak saya tahu, pasti mereka bakalan sering nyanyi lagu ini, tapi berhubung saya yang tahu jadi saya yang sering denger dan nyanyi lagu ini. "Dan jika suatu saat. Buah hatiku, buah hatimu. Untuk sementara waktu pergi. Usahlah kau pertanyakan ke mana kakinya kan melangkah. Kita berdua tahu, dia pasti. Pulang ke rumah." Banda Neira  - Di Beranda. 

Waktu di Suntenjaya, pas hiburan malam banyak pedagang yang datang berjualan. Saya sengaja beli kacang rebus--salah satu cemilan favorit bapak saya--hem, homesick lagi toh. Trus saya sok akrab gitu sama si bapak penjual kacang. Namanya Pak Hayat kurang lebih sudah 65 tahun, pas saya tanya-tanya Pak Hayat ini aslinya daerah Cileunyi, tapi sengaja jualan kacang rebus di desa Suntenjaya, dia nggak punya siapa-siapa di Suntenjaya, kalo beberapa pekan abis jualan dia coba pulang ke rumahnya. Yang saya nggak nyangka Pak Hayat tidurnya di gerobak, tempat dia buat jualan kacang rebus. Waktu itu sudah malam, Pak Hayat mengeluh kakinya sakit terkilir karena abis jatuh pas beli gas gara-gara hari sudah malam dan tak ada penerangan. Denger bapak bilang gitu, saya coba minta obat ke tim medis panitia APD, udah malem banget sekitar jam setengah 12an Pak Hayat udah bersih-bersih gerobaknya, saya tahu kalo bapak sepertinya mau istirahat, jadi saya pamit untuk ke Balai Desa tempat kami nginap.

Sungguh, saya jadi keinget bapak, gimana capeknya kalo biasanya pulang dari kerja.  

Suntenjaya gak cuman bikin homesick, lebih dari itu saya bisa ketemu keluarga panitia dan volunteer APD yang hebat. Tak lupa untuk selalu bersyukur, inget kalo kita ngeluh susah masih ada yang lebih susah dari kita.

  • Share:

You Might Also Like

0 comments